Senin, 24 Oktober 2011

Aku dan ITS

Tempat Ini ..
Tulisan ini terinspirasi oleh pertanyaan seorang kawan, “jika aku sudah lulus nanti, akankah aku rindu dengan tempat ini?
Sejujurnya, tempat ini merupakan rumah kedua bagiku, tempat dimana aku merasa nyaman, tempat dimana aku bisa mengaktualisasikan diriku, tempat dimana aku berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, tempat dimana aku terus belajar menghadapi kehidupan, tempat dimana aku berbagi suka dan duka, bahkan tempat dimana aku tidur dan makan, dan aku sungguh tak mampu meninggalkan tempat ini, aku sudah terlalu terikat dengannya, tiada hari tanpanya.
Lalu pertanyaan selanjutnya muncul dalam pikiranku, “apakah keterikatanku dengan tempat ini terlalu berlebihan? apakah keterikatanku tersebut bisa menghambatku untuk maju, jika terlepas dari tempat ini?” Aku khawatir hal tersebut terjadi.
Aku tak memungkiri jika aku tak ingin meninggalkan tempat ini namun aku harus, karena kehidupanku yang sebenarnya adalah di luar tempat ini, terlepas darinya. Sewajarnya aku tahu bahwa tempat ini hanyalah wadah bagiku untuk menyalurkan minat, wadah untuk belajar, wadah untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang sebenarnya, namun kewajaran tersebut seolah-olah tertutupi oleh keterikatan yang berlebihan dengan tempat ini, fungsi yang diberikan berubah dari hanya sebuah wadah menjadi rumah kedua. Ya, tempat ini yang dahulu hanya wadah bagiku kini menjadi rumah kedua. Interaksi antar orang di dalamnya terasa menyenangkan .
Tiba-tiba teringat pada suatu hari, sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan hari Jumat waktu itu, Setelah kupikir-pikir sebenarnya bukan istimewa tapi lebih tepatnya sangat berkesan. Berkesan karena pada hari itu dengan waktu beberapa detik, aku mendapatkan pelajaran yang begitu berharga.
Hari itu, seperti hari-hari Jumat biasa yang jarang terdapat perkuliahan, aku tidak ada kuliah. Kegiatan yang telah ada di dalam agenda hanyalah aku harus berangkat ke kampus untuk menemui dosenku pada pukul 09.00. Boleh dikatakan hal ini cukup mendadak.
Sebenarnya aku sudah merencanakan untuk bertemu beliau pada minggu yang sama. Aku telah mengirimkan SMS kepada beliau pada hari Rabu untuk mengkonfirmasikan waktu kosong beliau. Namun, jawaban atas SMSku baru diberikan pada hari Kamis sore. Sehingga aku cukup merasa terburu-buru pada hari Jumat paginya karena beberapa hal harus aku persiapkan sebelum menemui beliau.
Memang tujuan utamaku menemui beliau hanyalah untuk dengan kepentingan meminta bantuan menjadi juri dalam lomba web desain, yang dimana aku tergabung dalam kepanitiaan ini.  Tapi karena hal tersebut, lembar kegiatan web desainku tentu sudah harus siap sebelum menemui beliau, padahal kenyataannya belum. Di rumah sedang tidak ada printer sehingga proposalku belum kuprint. Sehingga aku harus mencetaknya di rental komputer dekat kampus .
Jam 08.40, masih ada waktu sekitar 20 menit sebelum pukul 09.00 datang, aku menyempatkan diri ke tempat fotocopy untuk membeli stofmap. Setelah itu, aku bertandang sebentar ke sekretariat himpunan untuk meminta tandatangan dari kahima dan sekaligus menstempel lembar kegiatan tersebut. Hanya butuh sekitar 10 menit untuk menyelesaikan kedua hal tersebut dan aku pun segera menuju ruangan dosenku.
Sebenarnya aku mengetahui bahwa beliau belum ada di ruangannya. Karena aku mendengar dari seorang teman dan staf pengajar jurusanku bahwa beliau sedang menguji pra ujian tugas akhir kakak kelasku sejak pukul 08.00. Tapi tidak mengapa, karena menurutku akan lebih sopan ketika aku yang menunggu beliau.
Setelah kurang lebih 10 menit menunggu di depan ruang dosenku, tiba-tiba dari arah tangga ada suara orang yang sedang berlari kencang, menuruni tangga tersebut. Karena beberapa kali telah terkecoh, maka aku pun tidak menghiraukannya. Tapi seketika itu pula dosenku telah berdiri di depanku. Aku tertegun.
Ya, aku tertegun. Bagaimana tidak tertegun? Seorang dosen lari hanya karena telah berjanji untuk menemui mahasiswanya. Bahkan kata-kata beliau yang pertama kali keluar adalah sebuah penjelasan kenapa beliau bisa terlambat. Padahal, aku menemui beliau dan berada di depan ruangannya tidak lebih dari 5 menit. Karena memang keperluanku, sehingga aku merasa tidak apa-apa ketika harus menunggu agak lama. Tapi ternyata dosenku menganggap bahwa seorang mahasiswa yang akan menemuinya dibiarkan menunggu, adalah sebuah masalah.
Mungkin akan ada orang yang menganggap hal tersebut adalah wajar. Tapi menurutku itu adalah sebuah contoh bagi banyak orang mengenai kedisiplinan. Disiplin yang tidak hanya terkait dengan menghargai ketepatan waktu tetapi juga menghargai setiap orang yang telah membuat janji dengannya. Betapa sibuknya beliau dengan berbagai macam agendanya, beliau tidak lupa selalu menulis setiap janji yang akan dilakukannya di sebuah buku agenda. ”Agar tidak lupa”, kata beliau. Dan memang benar bahwa beliau selalu ada di ruangannya ketika janji itu telah beliau buat.
Kesadaran untuk menghargai waktu tidak hanya disandarkan pada sisi keakuan, bahwa aku punya kesibukan yang begitu padat, bahwa aku hanya memiliki waktu sekian jam, menit, detik, Tapi ketepatan waktu yang kita lakukan adalah bentuk penghargaan kita terhadap waktu yang juga dimiliki oleh orang lain. Berfikir tidak hanya bahwa aku tetapi juga bahwa mereka.
Menghargai orang lain pun menjadi sebuah pembelajaran penting. Seorang dosen yang menghargai mahasiswanya dengan bersedia menjawab SMS dan tidak membuat mahasiswanya menunggu terlalu lama. Hal ini menggambarkan bahwa semua orang adalah prioritas ketika kita sudah membuat komitmen dengannya. Semua orang adalah penting dengan peran dan fungsinya masing-masing. Semua orang mempunyai kesempatan untuk mendapat penghargaan sesuai dengan usaha dan kerja kerasnya.
Terkadang aku berpikir, saat ini, berkaca terhadap diriku sendiri, kedisplinan menjadi sangat sulit untuk dilakukan. Dalam rutinitas sehari-hari, ketika terlambat kuliah menjadi sebuah kebiasaan, membaca dan belajar memiliki prioritas terakhir dalam waktu kita sehari-hari, target-target organisasi yang hanya menjadi rencana dan tidak terlaksana, semuanya memiliki unsur ketidakdisplinan. Padahal ketika kita berpikir ingin menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain, seharusnya disiplin menjadi karakter utama kita bukan? Paling tidak dari tokoh dosenku di atas, beliau dapat bermanfaat bagi banyak orang, bagi keluarganya, mahasiswanya, staf-staf pegawai di jurusan, dan tentu saja dunia perencanaan di dalam lingkup yang lebih luas. Sebuah dunia yang memang ia dedikasikan dirinya untuk berada di sana. Sebuah dunia yang juga akan aku masuki nantinya. Disini, aku telah belajar banyak hal, mulai dari akademis hingga pelajaran hidup. Terima kasih untuk semua pelajaran yang telah diberikan tempat ini, ITS ..

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright 2011 me..me..me..